Emine Erdoğan Himbau Ubah Kebiasaan Konsumsi Plastik Demi Lingkungan

0
52
Dok. Daily Sabah

Istanbul. Ibu negara Emine Erdoğan himbau masyarakat Turki untuk mengubah kebiasaan pemakaian plastik demi lingkungan. Emine, yang dikenal karena memperjuangkan kampanye tanpa limbah, berbicara di “Istanbul International Environment Summit” pada hari Jumat, 7 Desember 2018, dan menyerukan perubahan budaya pemakaian plastik berlebihan dalam perang melawan polutan plastik.

“Urbanisasi yang cepat dan kebiasaan konsumsi yang berubah membawa banyak dampak negatif pada lingkungan. Pemakaian plastik telah menjadi faktor penentu dalam keadaan dunia kita saat ini. Sebagai contoh, perekonomian saat ini didorong oleh tingkat konsumsi yang stabil dan sektor-sektor yang fokus hanya pada masa bertahan suatu produk,” tutur Emine.

Emine menambahkan bahwa kasus ini merupakan perilaku konsumtif yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Pemerintah saat ini menghadapi ekonomi dan sektor pemasaran yang penyediaan kepuasan spiritualnya bergantung pada kegiatan belanja dan pemuasan ego melalui barang-barang yang dikonsumsi.

Siklus kebiasaan buruk tersebut menjadi terus berkembang karena pola kebiasaan masyarakat yang cenderung menjadi lebih bahagia ketika mereka kembali dari berbelanja dengan lebih banyak tas barang daripada barang yang benar-benar mereka sendiri butuhkan. Sayangnya, berbelanja dengan siklus seperti itu telah menjadi tuan bagi manusia modern.

“Pola pikir konsumsi ini tetap menjadi tantangan utama dalam menyelesaikan krisis lingkungan. Kita perlu pendekatan yang sehat untuk masalah ini. Mengubah kebiasaan konsumsi berkontribusi pada perubahan komposisi limbah. Kemasan merupakan mayoritas sampah. Sayangnya, dunia telah berubah menjadi tempat berkumpulnya plastik. Jumlah plastik yang diproduksi secara global pada tahun 2015 adalah 7,8 miliar ton. Saat ini, ada lebih dari 1 ton plastik per orang dan limbah yang tidak terkontrol dibuang bercampur dengan air telah mencemari hidup kita. Cina yang merupakan produsen plastik terbesar di dunia, saat ini menyumbangkan 330.000 ton plastik ke perairan dunia setiap tahunnya. Plastik juga merupakan musuh utama bagi keanekaragaman hayati,” tambahnya.

Emine menuturkan bahwa sikap bijak tiap individu akan memainkan peran penting dalam perlindungan lingkungan.

“Upaya bersama lembaga-lembaga publik dan lingkaran ilmiah dalam memerangi polusi ini sangat penting, namun setiap individu juga harus menjadi penanggungjwab dalam hal ini. Jika kita tidak menolak budaya konsumsi ini, kita akan menjadi aktor utama dalam krisis lingkungan yang terjadi. Untuk meninggalkan gaya hidup yang berkelanjutan demi generasi masa depan adalah dengan mengubah kebiasaan pribadi kita. Setiap orang harus tahu dampak dari botol plastik yang ia lemparkan ke laut. Setiap orang harus menyadari bahwa dengan tidak menggunakan kantong plastik saat berbelanja dapat membantu melindungi lingkungan. Pilihan lainnya ialah kami dapat memaksa sektor industri untuk menjadi industri ramah lingkungan,” jelas first ladi .

Tahun lalu, Emine memimpin sebuah proyek untuk mempromosikan daur ulang, Zero Waste, untuk pertama kalinya di kompleks kepresidenan serta kementerian, hingga akhirnya menyebar ke kota-kota di seluruh Turki. Proyek ini melibatkan penghematan mulai dari kertas hingga logam yang dibuang untuk digunakan di masa mendatang atau untuk didaur ulang. Dari kementerian hingga restoran di kota kecil menerapkan praktik daur ulang oleh mereka sendiri, dan kampanye ini berlangsung dalam satu tahun.

Kegiatan daur ulang Turki menyelamatkan lebih dari 30 juta pohon pada tahun 2017 dan 2018 serta lebih dari 1,7 juta ton limbah kertas dan karton didaur ulang tahun lalu dan dalam tiga bulan pertama di tahun 2018. Emine mengatakan bahwa ia senang melihat mobilisasi nasional tentang pengelolaan limbah tersebut. Ia juga menyentuh kegiatan ibadah haji yang ramah lingkungan.

“Kami, sebagai Muslim, berhati-hati untuk memenuhi kewajiban agama kami dengan cara terbaik, tetapi apakah kami cukup berhati-hati untuk tidak mengotori lingkungan saat kami melakukan haji? Kami harus meninggalkan jejak karbon setidaknya saat melakukan haji dan jika kami bisa, kami harus menanam pohon sebanyak kerusakan yang kita lakukan terhadap lingkungan saat melakukan haji,” katanya, merujuk pada gambar-gambar kritik plastik dan sampah lainnya yang dibuang dengan santai di dekat tempat-tempat suci di Mekah dan Madinah, di mana jutaan Muslim dari seluruh dunia berkunjung untuk ziarah sekali dalam setahun tersebut.

“Istanbul International Environment Summit”, yang dimulai pada hari Kamis hingga hari Sabtu tersebut mengangkat tema “Transformation for a Livable Environment”. Acara yang diadakan oleh pemerintah kota Istanbul itu menyatukan lembaga-lembaga dan organisasi publik, organisasi non-pemerintah (LSM), industrialis, perencana kota, akademisi dan perwakilan sektor terkait. Peserta membahas rencana aksi lingkungan, pengelolaan limbah, pembangkitan energi limbah, perubahan iklim global, visi lingkungan pemerintah dan kota, konservasi keanekaragaman hayati, pembersihan pesisir, solusi ramah lingkungan dan perspektif masa depan dalam lokakarya dan panel.

Sebuah pameran yang menyertai KTT tersebut menampilkan proyek untuk perlindungan lingkungan serta suvenir yang terbuat dari bahan daur ulang, kendaraan listrik untuk pembuangan sampah dan sebagainya. Berbicara pada hari Jumat di sesi tentang puncak perubahan iklim, ilmuwan iklim Turki Ömer Lütfi Şen memperingatkan tentang dampak perubahan iklim di Istanbul.

“Proyeksi menunjukkan akan ada hingga 30 juta penduduk di kota Istanbul pada tahun 2050. Peningkatan populasi tersebut berarti lebih banyak permintaan untuk makanan, air dan energi serta perluasan urbanisasi. Lebih banyak urbanisasi berarti pembentukan pulau-pulau perkotaan yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu di kota-kota. Istanbul sedang dipengaruhi baik oleh perubahan iklim global dan urbanisasi,”katanya.

Şen mengatakan bahwa Istanbul akan lebih hangat, terutama di musim panas di masa yang akan datang dan juga akan terjadi hujan dengan intensitas yang lebih berat.

“Peningkatan populasi disertai dengan perubahan iklim tersebut membuat kota lebih rapuh,” ia memperingatkan, menyerukan untuk memperbaiki perencanaan kota agar lebih siap mendistribusikan populasi.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here