Efektivitas Kebijakan Turki dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

0
772

Adhe Nuansa Wibisono Ketua Majelis Pertimbangan KAMMI Turki, Mahasiswa Ph.D Turkish National Police Academy

“Ada harapan setelah keputusasaan dan akan terbit matahari setelah dirundung kegelapan” (Maulana Jalaluddin Rumi) Kutipan puisi Jalaluddin Rumi yang ditempelkan pada kotak bantuan medis Turki ke Italia dan Spanyol, menggambarkan optimisme pemerintah Turki dalam menghadapi pandemi corona.

BERITATURKI.COM, ANKARA- Langkah Sigap Turki Kebijakan pemerintahTurki menghadapi wabah virus corona (Covid-19) dianggap cukup efektif oleh berbagai pihak. Hal ini dilihat dari data jumlah penderita Corona di Turki yaitu sebanyak 20.921 kasus tetapi angka kematian hanya berkisar 425 orang (2,03%). Tingkat angka kematian ini cukup rendah jika dibandingkan dengan Indonesia (9,11%) dan beberapa negara besar lainnya seperti Italia (12,25%), Spanyol (9,39%), Perancis (10,11%) dan Inggris (9,44%) (Worldometer, 3 April 2020). Data ini menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat virus corona di Turki lebih rendah dibandingkan banyak negara lainnya. Lalu, sebenarnya langkah apa saja yang telah diambil pemerintah Turki untuk mencegah penyebaran corona?

Ketika Turki mengumumkan kasus pertama Covid-19 pada 11 Maret 2020, pemerintah Turki langsung melakukan karantina khusus terhadap pasien, keluarga dan orang terdekatnya. Pasien tersebut adalah warga negara Turki yang baru saja kembali dari Eropa. Kemudian esoknya pada 12 Maret, pemerintah Turki langsung mengumumkan penutupan sekolah dasar, menengah dan atas selama satu minggu dan univeristas diliburkan selama tiga minggu dimulai dari 16 Maret. Kemudian proses pendidikan akan dilanjutkan melalui internet dengan sistem pengajaran online jarak jauh. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran corona di kalangan usia muda yaitu pelajar dan mahasiswa.

Salah satu langkah sigap pemerintah lainnya adalah kebijakan karantina jamaah umrah yang kembali ke Turki di asrama mahasiswa pada 15 Maret. Pemerintah juga mengantarkan para jemaah untuk menjalani tes di rumah sakit. Para jamaah kemudian harus dikarantina selama 14 hari di beberapa asrama mahasiswa di Ankara dan Konya, dengan kapasitas asrama sebesar 10.330 orang. Kebijakan untuk meliburkan universitas menyebabkan sebagian besar asrama mahasiswa kosong. Jumlah jamaah umrah yang dikarantina adalah 9.800 orang di seluruh Turki (Daily Sabah, 2020). Beberapa kasus positif corona kemudian muncul dari kluster umrah ini, dapat dibayangkan potensi penyebaran jika pemerintah Turki tidak sigap melakukan karantina?

Kebijakan Preventif Pemerintah

Untuk mencegah penyebaran virus, pemerintah Turki telah melarang pelaksanaan Shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid yang dimulai pada 16 Maret. Lalu pemerintah juga menginstruksikan penutupan pusat pertokoan, restoran, bar, fasilitas rekreasi dan sejenisnya sejak 17 Maret. Selain itu pemerintah menghentikan semua penerbangan dari dan ke Eropa, menutup perbatasan dengan Iran dan membatalkan penerbangan ke berbagai negara dengan tingkat infeksi yang tinggi. Berbagai kebijakan ini secara efektif diikuti oleh masyarakat Turki yang sejak tiga pekan terakhir melakukan work from home (WFH) dan sosial distancing (pembatasan sosial).

Pada 21 Maret, kemudian pemerintah mengumumkan larangan keluar rumah bagi orangtua berusia di atas 65 tahun dan mereka yang menderita penyakit kronis. Kebijakan ini dibuat untuk mencegah penyebaran corona di kalangan kelompok rentan. Pemerintah Turki menyatakan semua rumah sakit, termasuk rumah sakit swasta, harus menerima dan merawat pasien yang diduga menderita corona. Pemerintah juga menyatakan setiap rumah sakit dengan adanya minimal dua dokter spesialis penyakit menular atau penyakit dalam ditetapkan sebagai rumah sakit pandemi. Kebijakan ini diambil sebagai alternatif untuk meringankan beban pada institusi dan personel kesehatan.

Sementara itu Presiden Erdogan telah menyampaikan siaran langsung pengumuman nasional terkait pencegahan wabah corona, yang disampaikan pada 27 Maret. Poin-poin utama yang disampaikan 2 adalah : 1) Perjalanan antarkota harus mendapatkan izin tertulis dari pemerintah daerah, 2) Himbauan untuk jam kerja fleksibel dengan personil yang minimum di sektor swasta, 3) Pengaturan tempat duduk yang berjarak diterapkan dalam transportasi umum, 4) Area wisata akan ditutup pada akhir pekan dan tidak akan ada tempat kolektif pada hari kerja, 5) Tentara turki akan mendapatkan karantina bergilir selama 14 hari, 6) Penerbangan internasional sepenuhnya dihentikan, dan 7) Dewan pandemi akan dibentuk di bawah kepemimpinan gubernur di seluruh provinsi.

Pengumuman Erdogan tersebut lalu diikuti langkah nyata pemerintah Turki dengan melakukan tes kesehatan massal yang sudah menjangkau 106.799 orang. Menteri Kesehatan, Fahrettin Koca menyatakan sampai 1 April, bahwa kasus kematian akibat corona hanya terjadi di 39 provinsi dari 81 provinsi di seluruh Turki. Dia melanjutkan bahwa sekitar 80% kematian terjadi pada orang usia lanjut berusia di atas 60 tahun. Pemerintah kemudian mendistribusikan 4 juta masker N95 ke berbagai lembaga negara untuk disebarkan kepada masyarakat. Selain itu Turki juga telah mengurangi ekspor masker mengingat kebutuhan dalam negeri yang juga mendesak (Anadolu Agency, 2020).

Kampanye Solidaritas dan Bantuan Kemanusiaan

Presiden Erdogan pada 30 Maret meluncurkan Kampanye Solidaritas Nasional yang disebut dengan “Biz Bize Yeteriz Türkiyem” (Kita Cukup untuk Satu Sama Lain, Turkiku) dimana warga Turki dapat menyumbangkan uangnya untuk menghadapi Covid-19. Erdogan menyatakan dia telah menyumbangkan tujuh bulan gajinya untuk donasi tersebut. Sementara itu anggota kabinet dan parlemen telah menyumbangkan 5,2 Juta Lira ($ 772.200). Erdogan menegaskan tujuan dari kampanye ini untuk memberikan dukungan kepada masyarakat kelas bawah yang menderita secara ekonomi karena virus corona. Sementara itu menurut website resmi donasi (bizbizeyeteriz.gov.tr) kampanye tersebut telah menghimpun dana sebesar 1,06 Miliar Lira ($ 157,5 juta) sampai 3 April 2020.

Selain melakukan kampanye donasi, Presiden Erdogan juga tetap membantu negara lain dalam penanganan Covid-19 diantaranya adalah mengirimkan bantuan ke Italia dan Spanyol, negara yang paling terpukul di Eropa oleh virus corona. Korban tewas di Italia sampai 3 April 2020 mencapai 14.681 orang, angka kematian tertinggi di dunia, sedangkan Spanyol menyusul di peringkat kedua dengan 11.198 kematian (Worldometer, 2020). Turki mengirimkan bantuan medis yang terdiri dari masker wajah, pelindung mata, baju alat perlindungan diri (APD) dan cairan anti-bakteri yang diproduksi oleh fasilitas nasional di pabrik-pabrik militer Turki. Bantuan tersebut dikirimkan dengan pesawat A-400 M Turkish Air Force ke Italia dan Spanyol. Tercatat bahwa bantuan yang sampai ke Spanyol berisikan suplai logistik medis seberat 25 ton (Anadolu Agency, 2020). Pada akhirnya, beberapa lesson learned yang bisa diambil dari pengalaman Turki dalam kebijakan pencegahan Covid-19 ini diantaranya adalah : Pertama, Turki secara pro-aktif melakukan tindakan pencegahan yang cepat dengan melakukan penutupan sekolah, universitas, kantor pemerintah, pusat pertokoan, restoran dan pembatasan shalat jumat pada masa awal terjadinya kasus corona. Selain itu Turki juga sigap menghentikan jalur penerbangan berisiko dan menutup perbatasan dengan negaranegara yang terkena dampak corona.

Kedua, sejarah Turki dibangun berdasarkan kuatnya pengendalian pemerintah pusat dari zaman Dinasti Ottoman hingga zaman Republik Turki yang dibangun oleh Mustafa Kemal Ataturk. Warisan sistem tersebut berpengaruh kepada karakter sosial masyarakat Turki yang relatif patuh terhadap kebijakan pemerintah pusat terkait social distancing. Pemerintahan Erdogan juga secara efektif menggunakan aparatur negara dan loyalitas masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan yang dibutuhkan.

Ketiga, kuatnya legitimasi pemerintahan Erdogan dan AKP sehingga relatif mudah mengambil kebijakan nasional dalam pencegahan corona. Jika dilihat dari berbagai kebijakan yang diambil seperti karantina, penutupan fasilitas umum, dan kampanye donasi, pemerintahan Erdogan tidak mendapatkan perlawanan berarti dari kelompok oposisi. Relatif solidnya pemerintahan dalam pengambilan kebijakan membuat Turki dapat secara lincah dan aktif dalam menentukan prioritas kebijakan untuk melawan Covid-19.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here