Duta Besar Turki Untuk Dakar: Diplomasi dengan Afrika Telah Membaik Secara Bilateral.

0
88
Presiden Erdogan bersama Presiden Senegal Macky Sall, disambut dengan pasukan bersenjatadi Ibukota Senegal, Dakar.

Ahmet Kavas (Dubes Turki untuk Senegal) menyampaikan beberapa update perkembangan hubungan Turki dengan Benua Permata Hitam tersebut.

BERITATURKI.COM, Ankara (08/06)

Diplomasi Turki dengan Afrika terus meningkat secara bilateral ketika Ankara dan lembaga-lembaga sipil membangun jaringan komunikasi multidimensi melalui kegiatan mereka di seluruh benua, kata Ahmet Kavas, Duta Besar Turki untuk Senegal.

Berbicara kepada Anadolu Agency (AA), utusan yang baru diangkat itu menyatakan bahwa Afrika adalah bagian paling sukses dan aktif dari kebijakan luar negeri Turki dan rahasia kesuksesan ini melampaui dari sekedar ikatan ‘bilateral’ biasa, namun menyentuh pada ikatan emosional yang telah menarik perhatian masyarakat internasional.

Kavas menagatakn “Pada 2020 ini 35 negara Afrika memiliki kedutaan besar di Turki, yang berarti bahwa diplomasi Turki semakin membaik secara bilateral dengan negara-negara di Benua Afrika,” Kavas menambahkan bahwa Turki sendiri memiliki kedutaan di 42 dari 54 negara Afrika, yang berarti bahwa ia memiliki interaksi langsung dengan 90% benua hitam tersebut.

Terlepas dari kedutaan besar, Kavas menekankan kehadiran negara Turki dan lembaga-lembaga sipil seperti Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA), Yayasan Maarif Turki (TMV) dan Turkish Airlines (THY) di benua itu, menyoroti pentingnya mereka dalam membangun jembatan persaudaraan.

Duta Besar Turki untuk Senegal, Ahmet Kavas di Dakar (Doc. Milligazete.com)

“Ketika pada awal 2000-an kami (sebagai orang Turki) menggunakan maskapai penerbangan internasional lainnya, sekarang seluruh dunia melakukan perjalanan antarbenua dengan THY. Sekolah-sekolah TMV menyentuh orang-orang melalui pendidikan. Diyanet Foundation (Badan Urusan Keagamaan) Turki membangun hubungan dekat dengan masyarakat Muslim di seluruh dunia dengan meningkatkan jumlah pusat koordinasinya, “utusan itu menyoroti.

Kebijakan luar negeri Turki telah lama ditentukan dengan hubungannya dengan Eropa dan Timur Tengah, meskipun memiliki hubungan historis yang mendalam dengan benua itu. Setidaknya telah memiliki hubungan yang kuat selama periode Kekaisaran Ottoman, Turki telah berusaha untuk menjaga hubungan ini meskipun mereka melemah setelah jatuhnya kekaisaran. Namun, batu fondasi kebijakan Afrika Turki di republik baru itu diletakkan pada tahun 1998, atau ketika Kemenenterian Luar Negeri dijabat oleh Menlu Ismail Cem. Namun, lompatan penting yang sebenarnya dapat dikatakan baru dibuat pada tahun 2005, yang juga dinyatakan sebagai “Tahun Afrika” oleh Ankara, dan Turki diberikan status pengamat oleh Uni Afrika pada tahun yang sama, di bawah kepemimpinan perdana menteri saat itu yaitu Recep Tayyip Erdoğan. Dengan demikian, inisiatif yang berhasil dilakukan di Afrika tersebut telah memberikan jalan bagi Kebijakan Kerjasama Komprehensif di Afrika pada tahun 2013.

Kavas kembali ke Senegal setelah 27 tahun

Mendedikasikan kehidupan akademiknya untuk sejarah dan budaya Afrika, perjalanan Kavas dengan Senegal dimulai pada tahun 1993, ketika ia mengunjungi negara itu selama perjalanan ke benua bercuaca panas tersebut untuk pekerjaan tesis doktoralnya.

Meskipun dia berasumsi pada saat itu bahwa itu adalah satu-satunya kesempatan untuk mengunjungi negara itu, Kavas menyatakan bahwa bahkan pada saat itu dia sangat tertarik dengan Senegal.

“Pada saat itu, seorang diplomat muda yang bekerja di Kedutaan Besar Turki (di Senegal) mempertanyakan tujuan kunjungan saya. Ketika saya mengatakan kepadanya bahwa tujuan saya adalah untuk memperkenalkan Turki ke Senegal dan Senegal ke Turki, dia mengatakan kepada saya bahwa saya memiliki pemikiran utopis,” DUta Besar itu bernostalgia.

Setelah kembali ke negara itu setelah 27 tahun kemudian, Kavas mengatakan dia senang melihat bahwa Turki sekarang dikenal dengan baik di Senegal.

“Ada banyak pekerjaan di Turki untuk membuat Senegal lebih dikenal, tetapi itu tidak cukup. Jika selama tugas kita, kita dapat membuat Senegal dan Turki lebih saling dikenali satu sama lain, kita akan dapat mencapai tujuan kita tersebut,” ujarnya lagi.

Kavas memperkuat bahwa populasi kedua negara yang hampir 99% adalah Muslim, karena itu keduanya memiliki banyak kesamaan, Kavas menyatakan bahwa dasar-dasar Islam harus menyatukan masyarakat kedua negara, ia berharap.

Turki efektif di Afrika bahkan dalam pandemi

Turki berbagi pengalaman historisnya sendiri, penghematan sosial, politik dan budayanya, sumber dayanya dan sarana dengan pemerintah Afrika dan orang-orang dalam prinsip “solusi Afrika untuk masalah Afrika” dan atas dasar saling menguntungkan. Sementara jumlah kedutaan di Afrika hanya 12 perwakilan di tahun 2002, itu telah meningkat pesat menjadi 42 kedutaan di tahun 2019 lalu. Selain itu, Erdogan telah mengunjungi 27 negara Afrika, yang termasuk kunjungan ketika ia menjadi perdana menteri, yang merupakan setengah dari negara yang ditemukan di benua yang luas.

Ketika datang ke kegiatan organisasi masyarakat sipil di benua itu, Kavas mengatakan mereka cukup efektif dalam menanggapi kebutuhan mendesak masyarakat di Afrika.

“Terutama selama periode pandemi COVID-19, organisasi masyarakat sipil melibatkan orang-orang dari jarak jauh dan terus melakukan kegiatan mereka pada tingkat tertinggi. Dalam proses ini, dengan memberikan Afrika dengan bantuan kesehatan, peralatan makanan untuk bulan Ramadhan dan sumur air, orang-orang kami membuktikan bahwa ia memiliki hubungan yang unik dengan benua itu,” ungkap Kavas.

Jumlah orang yang terinfeksi coronavirus di Afrika mencapai 189.434 orang pada hari Senin (tadi pagi), sebagaimana disampaikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (ACDCP).

Menurut angka terbaru oleh badan kesehatan masyarakat, jumlah kematian di benua itu telah meningkat menjadi 5.175 suspek Covid-19, sementara 82.888 pasien sejauh ini telah pulih.

Afrika Utara mencatat 54.700 kasus, Afrika Selatan 51.000, Afrika Barat 41.700, Afrika Timur 21.900 dan Afrika Tengah 20.200.

Jumlah korban tewas di Afrika Utara telah mencapai 2.200, di Afrika Selatan 1.000 orang, di Afrika Barat 828 orang, di Afrika Timur 639 orang, dan di Afrika Tengah 436 orang.

Senegal, di sisi lain, memiliki 4.427 kasus Covid-19 yang telah dikonfirmasi sejauh ini dan 49 korban meninggal.

Menggarisbawahi bahwa Turki telah bergerak melampaui tingkat “Kami mencintai Afrika,” ujar Utusan Resmi Ankara ini, bahwa agar negara itu bertahan di benua itu, Duta Besar Kanvas mengatakan Turki harus memahami akar sejarah dan budaya dengan sangat baik.

Kavas lebih lanjut menegaskan bahwa Afrika tidak memiliki toleransi terhadap kekuatan asing yang mendekati benua itu dengan ambisi imperialis, dan itulah sebabnya orang Eropa gagal membangun kehadiran di benua itu selama lebih dari seratus tahun terakhir.

Dalam sistem global saat ini, negara mencoba membangun pengaruh dalam politik global melalui peningkatan saluran diplomatik mereka. Namun, kolonialisme dan perbudakan yang dilakukan di Afrika Barat telah meninggalkan bekas luka yang dalam di benua itu. Turki, di sisi lain, tidak terkena dampak dari citra negatif tersebut karena tidak pernah memiliki sejarah melakukan praktik penindasan kolonialis dan sebaliknya bahkan kita memiliki sejarah hubungan yang baik di masa lalu.

Perdagangan bilateral terus berlanjut

Sejauh hubungan ekonomi dengan benua itu, Kanvas menyatakan bahwa bahkan selama pandemi, perdagangan bilateral dengan Afrika terus berlangsung tanpa henti.

“Perdagangan yang berkelanjutan membuktikan bahwa kami telah mencapai tingkat ‘berpengalaman’ di Afrika,” katanya.

Dubes Turki itu juga menggarisbawahi bahwa meskipun ada interaksi ekonomi yang tinggi antara Turki dan Senegal, di mana saat ini 1.000-an orang Turki tinggal, interaksi yang erat ini tidak memiliki refleksi pada pasar kedua negara.

“Negara-negara yang tidak memiliki banyak interaksi memiliki lebih banyak hadir di pasar masyarakat umum dan produk-produk kebutuhan lokal Senegal daripada perusahaan-perusahaan Turki,” katanya, menambahkan bahwa Turki tidak hanya perlu memberikan pengalaman ekonominya ke pasar Senegal dengan memberikan peluang baru tetapi juga perlu memperkenalkan produk-produk merek dagang Senegal seperti kapas dan kacang tanah ke pasar Turki, jadi ada proses timbal balik.

Volume perdagangan antara Turki dan negara-negara Afrika telah meningkat empat kali lipat selama 18 tahun terakhir, kepala Dewan Hubungan Ekonomi Asing Turki (DEIK) sebagaimana disampaikan oleh Ketua Dewan DEIK tersebut pada 13 Mei lalu.

Dia mengatakan Turki telah melakukan pendekatan ‘win-win approach’ atau dengan kata lain hubungan yang saling menguntungkan dan melanjutkan kebijakan penguatannya itu berdasarkan kesetaraan, transparansi dan keberlanjutan (jangka panjang). DS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here