Dokter Turki Temukan Makna Kebahagiaan di Pedalaman Afrika

0
117

Banu Çiftçi adalah seorang wanita muda yang penuh percaya diri dan cerdas. Selain itu, ia adalah seorang dokter kandungan dan ginekolog yang humoris, bersemangat dan idealis.  Di saluran YouTube-nya, ia berbicara tentang kesulitan menjadi seorang wanita di wilayah geografis yang sedang ia kunjungi.

“Saya pergi ke Afrika justru untuk membantu diri saya sendiri, bukan mereka. Saya senang jika saya bisa membantu orang lain. Saya menemukan kepuasan tersendiri ketika saya berada di Afrika dan menjalani tugas sebagai seorang dokter. Ungkapan penuh terima kasih dari para pasien yang saya tangani di sana memberikan kedamaian spiritual yang begitu luar biasa. Saya menyebut pekerjaan saya sebagai sedekah,” ungkap Çiftçi.

Impian terbesarnya dalam hidup adalah menjadi orang baik. Ia sosok wanita yang tegas dan telah menyentuh hati banyak orang serta selalu berusaha menebar kebaikan kemana saja ia pergi. Ia telah membuka 10 sumur air di Afrika dan berkolaborasi dengan warga setempat untuk mempersiapkan kebutuhan berbuka puasa di bulan Ramadhan lalu.

Dokter Çiftçi telah membantu proses kelahiran lebih dari 2.000 bayi di kliniknya hingga saat ini. Ia menceritakan perjalanan karir medisnya yang dimulai dari Istanbul ke Somalia, Uganda, Ethiopia, dan Kongo.

Makna kebahagiaan di Afrika

Foto-foto Çiftçi di Afrika selalu menggambarkan kebahagiaan dengan senyuman yang terpancar sepanjang waktu saat berada di sekitar pasien.

“Ketika harapan rendah, indeks kebahagiaan meningkat,” kata Çiftçi.

“Di Afrika, rang-orang lapar dan jauh dari peluang mendapatkan standar kesehatan. Mereka bahkan tidak memiliki tempat bernaung. Anda pasti akan berpikir mereka menangis dan hidup karena hidup dalam kesengsaraan. Namun ketika Anda pergi dan melihat mereka, nyatanya semua orang bahagia. Kemudian, Anda memikirkan mengapa mereka bahagia sedangkan kita yang memiliki segalanya terkadang masih banyak mengeluh,” tambahnya.

Çiftçi menambahkan bahwa mungkin kebanyakan orang melakukan diet dengan hanya mengkonsumsi  protein, tetapi di Afrika kebanyakan perut anak-anak membengkak karena kekurangan protein. Namun mereka tetap bahagia. Ketidakbahagiaan yang dialami oleh sebagian besar orang penyebabnya ialah gaya hidup modern. Ketika tuntutan dan harapan meningkat, orang-orang berpikir bahwa setiap hal harus dicapai. Orang-orang di Afrika tidak memiliki semua kesempatan itu tetapi mereka masih sangat bahagia.

Setelah bertahun-tahun mengabdi di Afrika, Çiftçi mengatakan bahwa kepuasan rohani yang ia dapatkan tidak ada tandingannya.

“Saya telah menghilangkan rasa sakit orang selama bertahun-tahun di Afrika. Ketika mereka melihat Anda, mereka berterima kasih kepada Anda dengan mata mereka yang menyentuh jiwa Anda. Kami pergi ke negeri-negeri ini untuk membantu diri kami, bukan mereka. Tidak ada kedamaian spiritual tertinggi lainnya bagi saya,” tutur Çiftif.

Banyak orang yang mengenal Çiftif atau mengikuti aktivitasnya di media sosial turut ingin membantu ketika ia pergi ke Afrika.

“Ketika saya di Afrika, saya berbagi beberapa postingan di media sosial. Pengikut saya mengatakan mereka juga ingin melakukan sesuatu ketika mereka melihat wanita dan anak-anak yang kami rawat. Kebutuhan terbesar adalah air bersih karena anak-anak minum air berlumpur. Membuka tempat air dibutuhkan biaya hingga $ 5.000. Saya tidak berpikir kita mampu mengumpulkan uang sebanyak itu, namun akhirnya mereka menggalang dana dengan hasil $ 50.000 yang akhirnya berhasil digunakan untuk membuka 10 sumur. Contoh seorang murid yang memberikan uang dari kantong mereka, kemudian ia membantu temannya. Di Afrika, kelak anak ini akan menjadi orang baik karena dia telah belajar membantu seseorang,” katanya.

Busung lapar, penyebab penyakit di Afrika

Çiftçi mengatakan bahwa penyakit orang-orang di Afrika sebagian besar berasal dari kekurangan gizi.

“Mereka kebanyakan mengalami busung lapar. Ada beberapa tempat di mana mereka dapat menemukan ikan tetapi mereka tidak memakannya. Alasannya adalah bahwa mereka meyakini bahwa makan ikan dilarang dalam agama mereka. Semua ikan di sana justru diambil dan dijual ke berbagai negara di dunia. Orang-orang disana mendapatkan informasi yang keliru yang akhirnya tidak dapat mengambil manfaat dari makanan enak yang diberikan Tuhan kepada mereka. Kami mengatakan kepada mereka terkait manfaat yang sebenarnya dan menjelaskan memakan ikan itu tidak dilarang. Namun, mereka begitu lama terjebak pada mitos tersebut sehingga kami tidak dapat mengubah pikiran mereka,” jelasnya.

Çiftçi juga menyebutkan kisah orang-orang yang berjalan sejauh beberapa kilometer dan menunggu berhari-hari untuk dirawat.

“Ada seorang pasien yang menderita hernia. Dia datang jauh. Dia perlu operasi dan tersenyum ketika dia mendengar berita itu. Saya bertanya kepadanya apakah dia takut atau tidak. Dia mengatakan bahwa dia menunggu selama bertahun-tahun dan akan singkirkan rasa sakitnya akhirnya. Dia berterima kasih kepada kami setelah operasi. Kami melihatnya di matanya, “katanya.

“Kami memperlakukan seorang ibu dengan ultrasound untuk pertama kalinya. Kami mengatakan kepadanya jenis kelamin bayinya. Dia terkejut dan bertanya bagaimana kita bisa tahu. Dia melihat bayinya di layar untuk pertama kalinya, dia tersenyum. Kita bisa secara teratur melihat bayi kita dalam USG empat dimensi tetapi kita pasti tidak bahagia seperti dia, “tambahnya.

Çiftçi ciptakan buku dan aplikasi tentang kehamilan

Setelah membantu proses kelahiran lebih dari 2.000 bayi, Çiftçi membuat aplikasi ponsel-“Banu Çiftçi ile Gebelik“-sehingga ia dapat menjawab pertanyaan kapan pun dan di mana pun. Dia juga memiliki buku yang berjudul “Hamilelik & Doğum” (Kehamilan dan Kelahiran), di mana dalam buku tersebut ia menjelaskan semua hal yang perlu diketahui seorang ibu muda selama kehamilan.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here