[Breaking News] Besok, PM Libya Akan Melakukan Kunjungan Perdana Ke Turki.

0
72
Fayyez Al-Sarraj
PM Libya Fayez Al-Sarraj, Dalam Liputan Pers sebelum kunjungan ke Turki

Turki-Libya akan membeicarakan beberapa kerjasama strategis pasca kemenangan GNA.

BERITATURKI.COM, Ankara (03/06)

Perdana Menteri Libya Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), yang diakui secara internasional Fayyez al-Sarraj, akan berkunjung ke Ankara pada 4 Juni (besok), untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan ketika dewan keamanan utama Turki telah menegaskan kembali bahwa dukungan Turki kepada pemerintah Tripoli akan melanjutkan perjuangannya melawan pasukan Jenderal Khalifa Haftar.

Dalam wawancara yang disiarkan televisi pada 3 Juni, Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu membenarkan bahwa Sarraj akan tiba di Ankara pada 4 Juni untuk membahas perkembangan terkini mengenai konflik bersenjata yang sedang berlangsung di Libya.

Turki secara politik dan militer mendukung GNA sejalan dengan kesepakatan yang ditandatangani Ankara dan Tripoli pada akhir 2019 yang membuka jalan bagi penempatan Angkatan Bersenjata Turki (TSK) ke wilayah Libya untuk melatih dan memberi nasihat kepada pasukan Tripoli.

Intervensi Turki telah berhasil mencegah pasukan Haftar untuk merebut Tripoli dan daerah-daerah lain yang dikontrol GNA di Libya barat meskipun Haftar didukung oleh negara-negara besar lainnya seperti Perancis, Uni Emirat Arab, Mesir dan Rusia.

“Haftar tidak dapat memenangkan perang ini,” kata Menlu Turki Mevlut Çavuşoğlu dalam wawancara kepada awak media tadi pagi, ia menggarisbawahi bahwa baik Haftar maupun para pendukungnya tidak mendukung penyelesaian politik atas pertanyaan tersebut.

Çavuşoğlu menambahkan bahwa “Haftar tidak memiliki kekuatan kecuali dukungan yang ia terima dari kekuatan eksternal dan pesawat tempur yang ia dapatkan dari Abu Dhabi dan Mesir. Turki telah memberikan keseimbangan baru di Libya. Jika Haftar bisa masuk Tripoli dengan bantuan kekuatan ini, perang saudara akan berlangsung selama bertahun-tahun.”

Semua aktor yang terlibat secara aktif dalam konflik di Libya, termasuk di antaranya Prancis, mereka harus menyadari bahwa bahwa solusi militer tidak akan menjawab permasalahan di Libya, dan mereka akan melihat keberhasilan GNA sebagai peluang untuk penyelesaian politik, tegas diplomat top Turki tersebut.

Turki untuk membela kepentingannya

Çavuşoğlu mengingat bahwa Turki memiliki hak dan kepentingan dan akan mengambil langkah-langkah yang memadai untuk melindungi kepentingan nasional mereka ketika dibutuhkan, Çavuşoğlu mengatakan, “Perjanjian kami dengan pemerintah Libya adalah sah. Kerja sama kami bertahan sejalan dengan hukum internasional. Tidak seperti yang lain (merujuk kepada rusia yang mengirimkan pasukan bayaran mereka), kami tidak mendukung pemerintahan yang nakal”, ujarnya menyindir beberapa negara yang mendukung pemberontak Haftar.

Sementara itu, dewan keamanan utama Turki, Dewan Keamanan Nasional (MGK), telah mengulangi dukungan berkelanjutan Ankara untuk GNA pada pertemuan dua bulan terakhir pada 2 Juni lalu. Dalam sebuah pernyataan tertulis, MGK menggarisbawahi bahwa dukungan pengiriman penasihat militer Turki untuk upaya GNA dalam rangka melindungi kesatuan politik dan integritas teritorial serta stabilitas dan perdamaian di negara ini akan terus berlanjut di periode mendatang.

Ia juga meminta semua komunitas internasional untuk mengikuti sikap yang lebih berprinsip di Libya dengan menghentikan dukungan yang diberikan kepada pasukan Haftar. (HD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here