Belajar dari Turki Hadapi Covid-19.

0
55
Perintah menjaga jarak aman di dalam tramway

Pengalaman WNI di Turki, terkait layanan Pemerintah Turki dalam menangani covid-19.

BERITATURKI.COM, ISTANBUL (12/05)-

Para pelajar Indonesia di Turki menuturkan pengalamannya selama pertemuan masa pandemi Covid-19.

Mereka juga mengeluarkan kebijakan efektif yang dikeluarkan pemerintah Turki untuk meluncurkan virus korona.

Darlis Aziz, mahasiswa asal Indonesia yang tengah menempuh S2 Studi Media dan Budaya di Hacettepe Üniversitesi, Ankara, mengatakan Turki termasuk negara yang bergerak cepat dalam menjalankan Covid-19.

Menurut Darlis, sejak pertama kali ditemukan pada 10 Maret lalu, keesokan harinya Turki mengumumkan darurat virus korona.

Selanjutnya pada 15 Maret, Turki langsung meliburkan semua aktivitas publik demi menahan laju korona.

“Presiden melalui Kementerian Kesehatan langsung menggunakan bantuan pencegahan dengan memberlakukan peraturan sosial dan penggunaan masker,” kata Darlis kepada Anadolu Agency.

Hal terpenting menurut dia adalah “bahwa dalam pengambilan keputusan kondisi darurat parlemen Turki satu suara, alias tidak ada perdebatan sejauh untuk kepentingan rakyat banyak, ini yang tidak terjadi di Indonesia” ujarnya.

Darlis juga mengumumkan kepedulian tinggi Pemerintah Turki terhadap pendidikan di masa pandemi.

Meskipun meliburkan perkuliahan, kata Darlis, Turki memberikan kuota internet gratis sebanyak 8GB selama sebulan kepada mahasiswa.

“Ini untuk mendukung sistem pembelajaran online selama pandemi,” ujar Darlis.

Darlis mengatakan mahasiswa asing juga mendapatkan perhatian dalam bidang kesehatan.

Menurut Darlis, mahasiswa asing yang telah mendapat sigorta (asuransi) mendapatkan layanan gratis periksa, perawatan dan antar jemput selama masa pandemi.

“Beberapa lembaga asosiasi mahasiswa internasional seperti UDEF atau Federasi Lembaga Pelajar Internasional juga bahkan memberikan bantuan sembako selama masa pandemi,” ujar dia.

Darlis mengatakan kunci Turki tergantung pada slogan yang selalu ditekankan oleh pemerintah tentang Erken tedbir, Etkin Uygulama, Etkili Mucadele, dan Hızlı karar.

Atau pencegahan lebih awal, keputusan yang cepat, penindakan yang disiplin, dan pertarungan bersama yang efektif.

“Saya melihat bagaimana satu nyawa masyarakat begitu berharga bagi pejabatnya dibandingkan jabatan,” ucap Darlis.

Antisipasi adalah kunci

Muhammad Haykal, yang tengah menempuh S2 Sejarah Islam Universitas Marmara, Istanbul, juga menceritakan pengalamannya selama tinggal di Turki di masa-masa krisis korona.

Menurut dia, pemerintah Turki sangat mengedepankan antisipasi dalam penanganan Covid-19.

Hal ini, terang dia, dibuktikan dari banyaknya rumah sakit kota yang telah dibangun selama dua dekade terakhir, untuk menjamin kesehatan para warga.

Bahkan yang terbaru RS Başakşehir di Istanbul dengan kapasitas 2.682 tempat tidur diresmikan pada saat puncak pandemi di Turki.

“Logistik dan stok makanan tergolong stabil,” kata Ketua Departemen Kemitraan dan Pengembangan Jaringan PPI Turki ini.

Haykal, sapaan akrabnya, menyampaikan apresiasi masyarakat Turki terhadap petugas medis yang sangat tinggi.

Bahkan sempat tiga malam berturut tepat pada pukul 9 malam waktu setempat, seluruh masyarakat bertepuk tangan dari apartemen sebagai dukungan pada petugas medis.

“Kita tidak pernah menyaksikan tenaga medis yang dikucilkan,” kata dia.

Haykal juga memiliki pengalaman berkesan dengan keramahan masyarakat Turki.

“Saat itu saya harus belanja dan tidak memiliki masker, akhirnya petugas supermarket memberikan saya masker gratis, agar dapat tetap berbelanja,” ujar dia.

Selain itu, kata dia, sejumlah polisi dan petugas keamanan di turki ditugaskan untuk membantu lansia

Jaminan bagi pelajar Indonesia

Lalu Muhammad Iqbal, Duta Besar Indonesia untuk Turki, juga mengakui bahwa Pemerintah Turki menyediakan kemudahan studi bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia baik penerima beasiswa dari Pemerintah Turki maupun yang mandiri.

Turki, kata Iqbal, juga menjamin jika ada siswa yang membutuhkan perawatan kesehatan, termasuk yang terkait dengan COVID-19, mereka akan diperlakukan sama dengan warga negara Turki.

Iqbal menyatakan pernah terjadi mahasiswa Indonesia yang meminta pelayanan ke KBRI, dia demam panas di atas 38 derajat.

Saat itu, KBRI langsung menghubungi pusat panggilan Pemerintah Turki dan mahasiswa ini langsung dijemput oleh ambulan dan dibawa ke rumah sakit rujukan untuk pengetesan dan perawatan.

“Alhamdulillah hasil tesnya negatif dan mahasiswa harus pulang tanpa membayar,” imbuh Iqbal. (Source: aa.com.tr).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here