Bantu Pengungsi Anak-anak Hilangkan Trauma, LSM Turki Gelar Festival Anak

0
30

BERITATURKI.COM, Ankara – Dalam rangka membantu anak-anak pengungsi Suriah melupakan trauma dan membantu mereka agar kembali merencanakan masa depan, organisasi non-pemerintah Turki terus berupaya mengorganisir berbagai kegiatan untuk meningkatkan integrasi sosial dan budaya anak-anak pengungsi. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Festival Anak ke-3 diselenggarakan pada hari Jumat, 26 April 2019 oleh Asosiasi Solidaritas bersama dengan Pencari Suaka dan Migran (ASAM) pada kesempatan Kedaulatan Nasional dan Hari Anak 23 April sekaligus peringatan 30 tahun Konvensi Hak Anak.

Acara yang diselenggarakan untuk meningkatkan persahabatan antara anak-anak Turki dan anak-anak pengungsi Suriah yang tercatat sebanyak 5.000 anak tersebut diisi dengan berbagai kegiatan mulai dari musik, seni visual, kegiatan kreatif dan pertunjukan panggung yang berlangsung sepanjang hari. Selain pendidikan, dukungan keuangan, layanan sosial dan kesehatan, serta kegiatan budaya juga diberikan kepada anak-anak pengungsi untuk mengukuhkan kohesi sosial antara mereka dan anak-anak Turki.

Mengomentari hal itu, Koordinator Umum ASAM İbrahim Vurgun Kavlak mengatakan bahwa asosiasinya secara teratur mempersiapkan kegiatan sosial dan lokakarya bersama dengan proyek-proyek lain. Dalam kegiatan ini, para pengungsi dan anak-anak Turki berkumpul serta menikmati kegiatan budaya yang artistik. Melansir Daily Sabah, perwakilan UNICEF di Turki, Philippe Duamelle, juga menggarisbawahi bahwa integrasi adalah proses dua arah dan pusat organisasi sipil, seperti ASAM yang berfungsi menyediakan tempat bersosialisasi untuk anak-anak pengungsi dan anak-anak Turki.

Sejak tahun 2011, konflik di Suriah merupakan konflik yang memicu terjadinya krisis kemanusiaan terburuk pasca Perang Dunia II. Turki merupakan satu-satunya negara yang menerima aliran konstan pengungsi Suriah yang melarikan diri dari konflik. Jumlah mereka terus meningkat dari hanya ribuan menjadi jutaan. Saat ini, Turki menampung jumlah pengungsi terbesar dengan lebih dari 3,5 juta pengungsi Suriah dan banyak lagi pengungsi dari Irak, Afghanistan, Iran dan Somalia. Sepuluh kota di Turki menampung sekitar 2,8 juta pengungsi, sementara pengungsi lainnya tersebar di seluruhwilayah dan hampir 1,6 juta populasi pengungsi Suriah di Turki adalah anak-anak. Tercatat hampir 300.000 warga Suriah telah lahir di Turki sejak tahun 2011.

Selain memenuhi kebutuhan pengungsi, untuk mengatasi tantangan dan mencegah anak-anak pengungsi menjadi “generasi yang hilang”, pemerintah Turki dan banyak LSM Turki giat membantu mereka untuk membangun kembali negara mereka sendiri di masa depan. Usai kedatangan pertama mereka di negara Turki, dukungan psikologis dan program pengasuhan secara komprehensif disediakan untuk anak-anak dan keluarga mereka. Anak-anak pengungsi yang telah mengalami perang dan penderitaan secara langsung berisiko mengalami kekerasan, peningkatan gangguan psikologis, pernikahan usia dini dan perekrutan ke dalam kelompok bersenjata.

Pendidikan adalah aspek utama yang perlu disikapi dengan upaya kuat karena anak-anak pengungsi telah kehilangan pendidikan akibat perang dan terpaksa meninggalkan rumah tempat tinggal mereka. Mengenai hal tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional dan UNICEF membangun 43 sekolah dan Pusat Pendidikan Sementara (TEC) serta merenovasi 218 sekolah sejak awal konflik. Inisiatif seperti Program Bantuan Tunai Bersyarat untuk Pendidikan (CCTE) untuk Suriah dan pengungsi lain juga secara aktif digunakan sebagai sarana untuk memberikan kesempatan pendidikan dan menjaga siswa agar tetap bersekolah dengan memberikan dukungan uang tunai setiap dua bulan kepada keluarga siswa.

Sebagai hasil dari upaya-upaya itu, tingkat pendaftaran sekolah untuk anak-anak pengungsi Suriah di Turki mencapai 85 persen di tahun ini dengan hampir 650.000 anak-anak Suriah kembali bersekolah. Turki telah memberikan beasiswa kepada 20.000 siswa Suriah tahun lalu, sementara upaya untuk mengurangi jumlah 400.000 anak-anak Suriah yang tidak bersekolah terus berlanjut.

Anak-anak penyandang cacat juga merupakan salah satu kelompok yang paling rentan diantara anak-anak pengungsi. Menyinggung masalah ini, Wakil Koordinator Umum ASAM Buket Bahar Dıvrak mengatakan bahwa mereka sedang mencari solusi yang tepat dengan secara khusus mengidentifikasi kebutuhan berdasarkan jenis kebutuhan khusus mereka. Dıvrak menekankan bahwa garis darurat dan tim penjangkauan organisasi memainkan peran penting dalam menangani kebutuhan tersebut.(Yn)

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here