[Analisis] Mengungkapkan Realitas Geopolitik Baru Selama Erdogan Memimpin

0
62

BERITATURKI.COM, Ankara – Pada Bulan November mendatang Dewan Turki akan mengadakan KTT ke-8 di Istanbul. Rencananya organisasi internasional tersebut akan secara resmi berganti nama nama menjadi Uni Turki (Persatuan Turki). Dengan demikian, struktur yang akan menjadi badan koordinasi tersebut akan menjadi lebih penting secara politik.

Erdogan sebelumnya pernah mengatakan bahwa “mimpinya adalah bersatunya enam negara menjadi sebuah bangsa”. Enam negara tersebut yaitu: Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan dan Turkmenistan.

Konsolidasi beberapa negara bekas Uni Soviet mengkhawatirkan Pemerintah Moskow. Diantara konsolidasi tersebut yaitu: Bantuan militer Turki ke Kirgistan setelah konflik dengan Tajikistan, deklarasi Turkistan sebagai ibukota spiritual dunia Turki, niat Kazakhstan dalam memodernisasi peradaban Turki dan lain-lain.

Serangan terhadap kepentingan Rusia pun terjadi baru-baru ini di Nagorno-Karabakh yang digencarkan oleh sekutu Rusia. Kremlin harus mengakui keberhasilan Baku, yang didukung oleh Turki dan hanya masalah waktu sebelum pangkalan militer Turki muncul di sana. Deklarasi Shusha yang ditandatangani oleh negara-negara pemenang meletakkan dasar untuk perluasan di masa depan. Sementara itu, Dewan Turki pun telah didirikan di Nakhchivan.

Di sisi lain, dalam kasus Krimea, sikap Turki bertentangan dengan kepentingan Moskow. Perkembangan seperti partisipasi Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu dalam “Platform Krimea” dan deklarasi semenanjung Ukraina sebagai miliknya menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan intervensi di wilayah Rusia.

Rais Suleymanov, seorang ilmuwan politik dan pakar di Institut Strategi Nasional menyatakan bahwa “Dengan pembentukan Persatuan Negara Turki yang akan diumumkan oleh Turki, Ankara bertujuan untuk mengarahkan kembali bekas republik Uni Soviet ke dirinya sendiri.”

Bagi Rusia, munculnya serikat semacam itu memiliki dua konsekuensi;

Pertama, Turki akan menembus negara-negara di wilayah kepentingan Rusia dan memperkuat posisinya di negara-negara tersebut.

Kedua, Turki akan mengambil peran yang kuat dalam hubungan internasional di masa depan.

Moskow perlu memahami bahwa Persatuan Negara-negara Turki bukan hanya sebuah asosiasi ekonomi atau budaya, tetapi juga sebuah asosiasi politik yang terbuka.

Menurut Andrey Grozin, kepala Departemen Asia Tengah dan Kazakhstan dari Institut Negara-negara CIS, Rusia harus terus mengembangkan kekuatan lunaknya di daerah-daerah yang berpotensi disengketakan.

Andrey Grozin; “Kita harus bersaing dengan Turki. Turki telah membangun berbagai sekolah menengah dan institut disini dan mereka memberikan kuota kepada kaum muda di negara-negara ini. Ada upaya untuk merekrut pemuda elit di negara-negara ini melalui program budaya dan ilmiah. Turki bergerak lebih cepat. Harus kita akui bahwa Erdogan memilih waktu yang tepat untuk melakukan perbaikan tatanan lama yang telah runtuh.

Sekarang ada pertempuran geopolitik untuk restrukturisasi dunia baru untuk merebut pengaruh sebanyak mungkin, baik di Barat maupun di Timur. Rusia, Amerika, Eropa, Cina, Persia dan Turki terus mencoba untuk melakukan hal tersebut. Pertanyaan nya adalah siapa yang memiliki kapasitas untuk mengendalikan jaringan yang tersebar ini.

Turki tersebar di wilayah yang sangat luas. Ia juga mengobarkan perang di Libya, mencoba memasuki Yaman, mengerahkan pengaruhnya di Suriah, sekitar Kabul, bahkan di Asia Tengah dan serta wilayah Transkaukasia bekas Soviet. Tetapi saya yakin bahwa ketika nama-nama pemimpin mereka diubah, Turki akan berjuang lebih dari yang diperlukan.”

Sumber : M5
Penulis : Adem Kılıç

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here