[ANALISIS] Akar Penyebab Masalah Nagorno-Karabakh

0
195

Oleh : Muhittin Ataman* Alih bahasa & pengayaan by @hazal

Armenia telah berulang kali melanggar prinsip-prinsip utama hukum internasional. Armenialah yang melanggar gencatan senjata dan menyerang Tovuz, kota strategis di Azerbaijan utara, pada 12 Juli lalu.

BERITATURKI.COM, Tovuz- Masalah Nagorno-Karabakh adalah salah satu masalah terbesar yang belum terselesaikan di era Soviet. Menyusul runtuhnya Uni Soviet dan deklarasi negara-negara baru, Armenia segera menduduki tanah Azerbaijan hingga kedua negara dipaksa untuk mencapai gencatan senjata pada tahun 1994. Sejak itu, 20% wilayah Azerbaijan tetap berada di bawah pendudukan Armenia. Hari ini, saya ingin fokus pada akar penyebab konflik yang tidak begitu terlihat di media arus utama.

Pertama-tama, konflik Nagorno-Karabakh adalah masalah kedaulatan. Wilayah itu secara historis dan legal adalah milik Azerbaijan; namun, itu diduduki oleh Armenia pada tahun 1991 dengan dukungan Rusia dan negara-negara kawasan lainnya. Armenia kemudian memperluas pendudukannya di wilayah Azerbaijan dan menginvasi tujuh wilayah lagi. Jadi, ada dua jenis wilayah yang diduduki oleh Armenia, yang pertama adalah wilayah otonom Nagorno-Karabakh yang dihuni oleh orang-orang Armenia dan yang kedua adalah tujuh wilayah di sekitar Nagorno-Karabakh dan menghubungkan Karabakh dengan negara bagian Armenia.

Armenia adalah salah satu dari sedikit negara yang tidak memiliki perbatasan resmi – dari empat negara tetangganya, hanya mengenal dua perbatasan. Ia tidak mengakui perbatasan dengan Azerbaijan, terlihat jelas di Nagorno-Karabakh dan tujuh wilayah pendudukan lainnya, dan tidak menghormati perbatasannya dengan Turki. Terlepas dari ukurannya yang kecil dan kelemahan militer, Armenia adalah negara ekspansionis di wilayah Kaukasus.

Kedua, masalah Nagorno-Karabakh merupakan masalah identitas karena Armenia telah mengubah identitas dan karakter demografis wilayah tersebut. Menyusul pendudukan wilayah oleh Armenia, lebih dari 1,5 juta Muslim Azerbaijan terpaksa pindah ke bagian lain Azerbaijan karena ribuan orang Armenia membanjiri wilayah tersebut, yang pada akhirnya mengubah identitas budaya Nagorno-Karabakh dan memperkuat posisi Armenia di wilayah tersebut. .

Ketiga, masalah Nagorno-Karabakh adalah masalah kemanusiaan. Krisis kemanusiaan pertama adalah pembunuhan massal warga sipil Azerbaijan pada 1990-an, terutama mereka yang dulu tinggal di Khojaly. Banyak pengamat menyebut pembunuhan massal di Khojaly sebagai genosida, dan bahkan pejabat Armenia mengaku bersalah atas pembunuhan tersebut. Namun, tidak ada kekuatan regional atau global yang meminta tanggung jawab Armenia atas tindakannya, yang mengakibatkan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Keempat, Armenia belum dianggap bertanggung jawab atas kebijakan agresif, ekspansionis, dan sepihaknya hingga saat ini. Kekuatan global dan komunitas internasional tetap diam tentang masalah pendudukan Armenia di wilayah Azerbaijan. Grup Minsk, yang terdiri dari tiga negara yang menjadi tuan rumah lobi terkuat Armenia, yaitu AS, Rusia, dan Prancis, belum mengambil langkah untuk mengatasi masalah tersebut selama tiga dekade.

Pada akhirnya, tidak ada harapan bahwa Grup Minsk akan memberikan solusi damai. Karena tidak ada akibat untuk pendudukan ilegal Armenia, Yerevan semakin yakin bahwa tidak ada kekuatan global yang akan menentang kebijakan sepihak dan agresifnya, sehingga memberinya kepercayaan untuk melanjutkan agenda ekspansionisnya.

Poin kelima adalah bahwa pemerintah Armenia sangat dipengaruhi oleh lobi Armenia yang berpengaruh. Diaspora Armenia di seluruh dunia, yang berpegang teguh pada kesedihan masa lalu untuk mempertahankan identitasnya, membentuk politik Armenia dan melarang pemerintah mencapai solusi damai dengan tetangganya, yaitu Turki dan Azerbaijan.

Dua cara diaspora Armenia mempengaruhi politik Armenia adalah melalui sumber daya keuangan yang diberikannya kepada pemerintah dan pengaruh tidak langsungnya melalui negara tuan rumah seperti AS, Prancis, dan Rusia. Hal ini mempertanyakan seberapa merdeka Armenia sebenarnya dari diasporanya.

Armenia telah berulang kali melanggar prinsip-prinsip utama hukum internasional. Armenialah yang melanggar gencatan senjata dan menyerang Tovuz, kota strategis di Azerbaijan utara, pada 12 Juli.

Kota Tovuz, sebuah kora strategis di wilayah utara Azerbaijan yang pertama kali diserang oleh Armenia pada 12 Juli lalu, menjadi penyebab awal pemantik konflik di Nagorno-Karabakh.

Azerbaijan, yang merupakan negara yang lebih besar, lebih kaya dan lebih kuat, mencoba menunjukkan kekuatan penangkalnya melalui latihan militer bersama dengan Turki tetapi Armenia terus menekan dan menyerang kembali Azerbaijan pada akhir September.

Azerbaijan, yang kehilangan kepercayaannya pada platform multilateral dan organisasi internasional, kali ini membalas dengan keras dengan serangan balik. Setelah angkatan bersenjata Azerbaijan mulai membebaskan tanah Azerbaijan dari pendudukan, negara-negara yang tetap diam selama agresi Armenia mulai meminta gencatan senjata. Ini adalah kasus sejarah yang berulang, seperti ketika kekuatan global memaksa orang Bosnia untuk berdamai dengan Serbia, hanya ketika Serbia mulai kehilangan kendali di lapangan.

Hari ini, Azerbaijan tidak dapat disalahkan atas bentrokan baru-baru ini yang mempertahankan wilayahnya sendiri, dan seruan pemerintah Azerbaijan untuk penarikan sepenuhnya Armenia adalah permintaan yang sah. Komunitas internasional harus menekan Armenia untuk menarik diri dari wilayah tersebut dan menormalisasi hubungan dengan tetangganya.

*Muhittin Ataman adalah Analis Senior di SETA, Pendapat di atas adalah dari penulis bukan pandangan Beritaturki.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here