[Analisis] Akar Konflik Ukraina – Rusia oleh Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah

BERITATURKI.COM, Kyiv – Menurut Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah Yang perlu dipahami dari Krisis Ukraina adalah sebagai berikut.

PERTAMA

Kekaisaran Rusia menguasai wilayah Ukraina selama abad keenam belas. Kemudian orang-orang Ukraina terlibat dalam imperialisme Rusia di wilayah-wilayah lainnya dan membantu mereka menjajah bangsa lain. Bahkan orang-orang yang dijajah, jarang membedakan antara orang Rusia dan Ukraina, terutama karena mereka termasuk ras Slavik.

Ketika Uni Soviet bubar pada tahun 1991, kemudian Ukraina memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1991, Ukraina menjadi negara kedua di ruang angkasa “Uni Soviet” dengan lokasi di utara Laut Hitam dan dengan populasi besar sebanyak 40 juta orang; serta dengan struktur industri tidak kurang dari Rusia dan persenjataan nuklir yang mewakili sepertiga dari warisan Soviet. Hal itu sebelum dilucuti berdasarkan perjanjian Amerika dan Rusia dengan Ukraina, sebagai imbalan atas janji Amerika-Rusia untuk menjaga integritas teritorial dan kemerdekaan Ukraina, khususnya Ukraina melakukan negosiasi panjang dengan Rusia mengenai Armada Laut Hitam Soviet yang sebagian besarnya diwarisi oleh Rusia, yang tetap bermarkas di pelabuhan Sevastopol dengan perjanjian sewa, di semenanjung Krimea yang masuk dalam wilayah Ukraina.

KEDUA

Kekuatan Rusia gagal membawa Ukraina kembali ke pelukannya dalam setiap konflik dengan Ukraina, baik itu dalam hal pembagian Armada Laut Hitam pada awal tahun 90-an, atau dalam masalah jaringan pipa gas yang panjang dan lebar yang dibangun oleh Uni Soviet yang telah dibangun di wilayah Ukraina untuk mengalirkan gas dari wilayah Rusia ke Eropa.

Dan apa yang muncul setelah masalah tersebut, yaitu berupa kebutuhan Rusia atas jalur alternatif (seperti jalur “Aliran Turki” melalui Laut Hitam atau “North Stream -Aliran Utara-” melalui Laut Baltik ke Jerman), atau dalam masalah perdagangan yang mana pasar Rusia sangat membutuhkan gula dan minyak yang diproduksi oleh tanah Ukraina yang subur. Atau, masalah keanggotaan Ukraina di berbagai badan yang didirikan oleh Rusia untuk negara-negara bekas sistem Soviet. Atau setelah itu, dengan munculnya orientasi politik Ukraina ke Uni Eropa dan NATO.

Semua pertikaian Rusia dengan Ukraina ini tidak memungkinkan Rusia untuk mengembalikan hegemoni terhadap Ukraina selama tiga dekade terakhir meskipun Rusia memiliki keunggulan militer.

KETIGA

Ukraina seolah seperti taman depan rumah bagi Rusia. Bagi Rusia, Ukraina tidak seperti Asia Tengah, misalnya, sebagai taman belakang dalam hal lokasi, saling keterkaitan suku, agama dan sejarah. Ukraina merupakan ujung depan Rusia dan posisi internasionalnya, karena menghadap ke Laut Hitam dan mengontrolnya lebih dari pandangannya atas wilayah Kaukasia islami yang dianeksasi oleh Rusia sepanjang sejarah. Dari tanah subur Ukraina, Rusia menemukan ketahanan pangannya dalam komoditas dasar yang melindunginya dari fluktuasi hubungannya dengan Barat. Dan dari situ menyeberang ke Eropa Timur, baik melalui pipa gas atau lainnya.

Di atas semua ini, Ukraina hari ini merupakan zona penyangga terakhir untuk menyelesaikan simpul historis Rusia, yang tercermin dalam kekhawatirannya terhadap Eropa yang darinya Rusia pernah diserbu sebanyak dua kali (oleh Napoleon dan Hitler). Dan jika kelemahan negara Soviet memaksanya untuk meninggalkan Eropa Timur sebagai zona penyangga, maka di depan kemajuan NATO ke Eropa Timur, Rusia ingin tetangganya yakni Ukraina dan Belarus menyediakan area yang mampu mengisolasinya dari bahaya NATO dan kemajuan mesin militernya ke arah timur.

Rusia hari ini ingin mencegah Ukraina bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), atau mendukungnya. “Dan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov menganggap dukungan militer AS ke Ukraina sebagai “tantangan serius bagi keamanan Rusia”… (Al-‘Ain Al-Ikhbariyah, 13/4/2021).

KEEMPAT

Barat, terutama Amerika, menyadari realitas simpul Ukraina ini dalam politik Rusia. Dan bahwa Ukraina mewakili sisi terlemah Rusia, terutama setelah kebangkitan gerakan nasionalis di Ukraina meningkat dan permusuhannya dengan Rusia berakar. Oleh karena itu, Ukraina, sejak dua dekade lalu, menjadi fokus gesekan Amerika dan Eropa dengan Rusia. Menyusul revolusi Oranye yang menggulingkan Presiden Ukraina Yanukovych yang pro-Rusia pada tahun 2014, Moskow merespons pada tahun yang sama dengan memotong semenanjung Krimea di selatan dari Ukraina dan menggabungkannya ke Rusia yang mana Rusia memiliki pangkalan militer strategis dan besar di semenanjung itu.

Tidak cukup dengan itu, tetapi Rusia juga mendorong separatis Rusia di Ukraina untuk menyalakan wilayah timur dan mendeklarasikan kemerdekaan dua provinsi (Donetsk dan Lugansk) untuk disebut oleh Rusia sebagai “Rusia Kecil”. Dan Rusia memberikan dukungan kepadanya secara militer.

Semua itu mendorong Ukraina ke dekapan Barat. Setelah itu, Ukraina menuntut dan bersikeras untuk bergabung dengan NATO dengan harapan akan melindunginya dari agresi Rusia. Barat pun mulai mendekatinya dan tampil dengan penampilan sebagai pembela Ukraina. Ukraina pun menjadi diundang ke pertemuan Eropa dan “NATO” khususnya ketika krisis dengan Rusia meningkat tanpa menjadi anggota Uni Eropa atau “NATO”. Dan Amerika mulai mempersenjatai dan memberikan bantuan militer miliaran dolar, dan mulai melatih tentara Ukraina.

KELIMA

Rusia telah berada di bawah sanksi keras Barat (Eropa dan Amerika) sejak aneksasinya ke Krimea. Maka Rusia mencoba untuk mengimbanginya dengan meningkatkan hubungan ekonominya dengan China. Rusia juga membuka koridor darat (jalur kereta api) bagi China untuk mengangkut barang-barang China langsung ke Eropa. Artinya, Rusia bekerja sama dengan China dalam rangka proyek besar China “Jalur Sutra”.

Selain itu, Rusia juga mulai melepaskan cadangan devisanya berupa obligasi dan dolar AS dan membebaskan perdagangannya secara besar dari dolar. Meski Rusia bukanlah raksasa secara perdagangan seperti Eropa atau China, namun Amerika melihat Rusia menentang hegemoni ekonomi Amerika dan dengan berani menghasut negara lain untuk melakukan hal itu. Hal itu mencuat pada sebagian besar kontrak komersial Rusia, terutama dengan China, dengan bersandar pada mata uang lokal sebagai pengganti dolar. Ini merupakan ancaman bagi Amerika. Ini ditambah lagi, baru-baru ini Rusia dituduh menaikkan harga gas, agar menjadi dilema ekonomi baru bagi Eropa.

KEENAM

Rusia memandang dimensi besar dan keistimewaan besar Ukraina dari sisi sejarah, hegemoni, ekonomi dan keamanan yakni merupakan zona penyangga dari NATO. Begitulah, Rusia menganggap Ukraina sebagai garis merah “Putin memperingatkan NATO agar tidak menyebarkan pasukan dan senjatanya di Ukraina. Dia mengatakan: “perluasan infrastruktur militer NATO di Ukraina merupakan garis merah bagi Rusia dan itu akan mengarah pada respons yang kuat”.

Di sisi lain, Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa dia tidak menghormati garis merah pihak mana pun terkait Ukraina (Noon Post, 04/12/2021). Karena semua ini, Rusia yang saat ini sedang mengelola krisis Ukraina, Rusia tidak berniat meninggalkan Ukraina dan membiarkannya sebagai mangsa empuk bagi Amerika dan NATO, terutama setelah Rusia merasakan dan menanggung sanksi Barat.

Lebih dari itu, Rusia melihat bahwa kesibukan utama Amerika hari ini adalah menghadapi China, dengan makna Amerika tidak akan memasukkan Ukraina sebagai anggota NATO disebabkan hal itu memerlukan sumber daya Amerika untuk mempertahankan Ukraina, karena hal itu akan melemahkan persiapan Amerika di Timur Jauh untuk menghadapi China.

Juga, Rusia tidak menghargai Eropa, yang lebih kecil kekuatannya secara militer dan bergantung pada Rusia dalam hal pasokan energi. Dengan makna, Rusia merasa bahwa situasi internasional menguntungkan bagi Rusia untuk mencapai kesuksesan di Ukraina. Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan kepada mitranya dari Amerika, Anthony Blinken, bahwa Moskow membutuhkan (jaminan keamanan jangka panjang di perbatasan baratnya yang akan menghentikan perluasan Pakta Atlantik Utara – NATO – ke arah timur. Ia menambahkan, “ini yang harus dianggap sebagai tuntutan imperatif -yang niscaya-”) seperti yang dikutip darinya oleh portal al-Wasath al-Libya pada 2/12/2021.

KETUJUH

Inilah realitas tuntutan dari pihak Rusia yang berdiri di belakang peningkatan eskalasi di Ukraina ini. Rusia berpandangan bahwa Barat meningkatkan suplay persenjataannya ke Ukraina, dan bahwa Barat dapat mendorong Ukraina setelah memperkuat pasukannya, untuk membasmi separatis Rusia di Ukraina timur, dan setelah itu dapat mendorongnya ke perang di Krimea.

Semua ini merupakan bahaya bagi Rusia. Kepala Staf Rusia, Valery Gerasimov mengatakan, “pemasokan pesawat, drone, dan helikopter kepada Ukraina akan mendorong Kiev untuk mengambil langkah berbahaya. Tapi provokasi apapun oleh Kiev untuk menyelesaikan situasi di Donbass dengan kekuatan maka akan dibungkam” (RT, 9/12/2021).

Begitulah, krisis saat ini mengungkapkan bahwa Rusia pertama-tama bertujuan untuk menghilangkan keraguan dalam kelangsungan Krimea tetap sebagai bagian dari Rusia, bahkan Rudia menginginkan hal itu sebagai perkara yang riil/faktual dengan pengakuan internasional Amerika dan Eropa. Dan tujuan kedua adalah agar Ukraina timur menjadi di luar otoritas Ukraina dan dengan keputusan sebagai bagian dari Rusia.

Dan tujuan ketiga yang paling banyak pengaruhnya adalah untuk mencegah bergabungnya Ukraina ke NATO dan Rusia perlu jaminan untuk itu, terutama setelah manuver latihan militer bersama antara NATO dan Ukraina di Laut Hitam, yang mana Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada saat itu “bahwa manuver latihan baru-baru ini yang dilakukan oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Laut Hitam melampaui semua batas, dan dia melihat bahwa Barat tidak menganggap peringatan negaranya dengan cukup serius.

Dalam pidatonya di depan para pejabat kebijakan luar negeri di Moskow, Presiden Rusia mengisyaratkan bahwa penerbangan pembom strategis NATO 20 kilometer dari perbatasan negaranya telah melebihi semua batas yang diizinkan. Dia mengatakan, “Mitra Barat kami meningkatkan situasi dengan memasok Kiev dengan senjata mematikan modern dan dengan melakukan manuver militer yang provokatif” (Al-Jazee ra net, 18/11/2021).

KEDELAPAN

Amerika menanggapi tuntutan Rusia untuk mengadakan KTT antara Presiden Rusia Putin dan Presiden Amerika Biden. KTT itu diadakan pada 7 Desember 2021. Krisis Ukraina merupakan topik utamanya, tetapi itu bukan satu-satunya. Selama KTT, tampak bahwa Rusia meminta Amerika untuk mengakui garis merah yang dirumuskannya di Ukraina.

Juga tampak bahwa Amerika memperingatkan Rusia tentang sanksi ekonomi jika menyerang Ukraina. Yang dimiliki Amerika lebih jauh lagi dari itu. Presiden Amerika menegaskan pada hari berikutnya setelah KTT bahwa intervensi militer Amerika dalam keadaan terjadi invasi Rusia ke Ukraina adalah tidak ada. Menjelang KTT, Amerika mengancam melalui para pejabatnya dengan ancaman sanksi-sanksi yang belum pernah dilihat oleh Rusia sebelumnya.

Amerika berbicara tentang penghentian aliran gas Rusia di jaringan pipa “North Stream -Aliran Utara-” ke Jerman, dan Amerika berbicara dengan Jerman dalam hal ini, bahwa opsi paling jauh yang dimiliki Amerika adalah memotong Rusia dan bank-bank utamanya dari sistem pengiriman uang asing, padahal sebagian besar perdagangan Rusia telah menjadi tidak menggunakan Dolar.

KESEMBILAN

Melalui pendalaman masalah ini, kami menemukan bahwa Rusia telah mengumpulkan dirinya sendiri ke dalam krisis yang dapat berbalik terhadapnya. Amerika dapat mendorong presiden Ukraina untuk memprovokasi Rusia sehingga Rusia tidak punya pilihan selain menyerang Ukraina. Sehingga Rusia pun terlibat dalam badai Ukraina dan terlibat dengan Eropa. Ukraina bukan negara anggota NATO sehingga Amerika harus datang untuk membelanya. Jika Rusia melakukan kesalahan dan menginvasi Ukraina, itu akan memberi Amerika semua pembenaran untuk menundukkan negara-negara Eropa dan membawa mereka kembali di bawah jubah Amerika dengan dalih melawan agresi Rusia. Satu perkara yang tidak sesuai dengan multipolaritas internasional yang diserukan oleh Rusia.

Ada juga cakrawala yang tidak dilihat Rusia. Dari bagian tekanan Amerika terhadap Rusia dalam kondisi terjadi invasi Rusia ke Ukraina, Amerika akan memiliki alat baru untuk membongkar aliansi yang muncul antara Rusia dan China. Sebab hal itu memungkinan Amerika menekan China dan mengancamnya dengan perdagangannya dengan Amerika untuk menjauhkan China dari Rusia yang menyerang Ukraina: Jika China tunduk dan menjauhkan diri dari Rusia, maka Amerika akan mencapai tujuan yang besar. Dan jika Rusia tunduk pada berbagai jenis sanksi dan menarik diri dari Ukraina setelah invasinya, maka tuntutan Amerika akan mengejarnya di Ukraina timur, dan bahkan di semenanjung Krimea, yang akan mengharamkan Rusia dari raihan apapun dari serangannya ke Ukraina, bahkan akan menjerumuskan Rusia ke dalam musibah. Ini selain Amerika mengobarkan negara-negara Eropa Timur dan mendorong mereka memberikan dukungan militer yang efektif dan berpengaruh untuk memukul Rusia di Ukraina. Mungkin pengalaman kelelahan Rusia di Afghanistan tidak jauh dari ingatan. Karena semua itu, Rusia sedang memainkan permainan berbahaya di sekitar Ukraina yang mungkin menjadi jebakan besar untuknya dan menjadi bumerang baginya, yaitu seperti orang bodoh yang tidak menyadari konsekuensi dari tindakannya!

KESEPULUH

Adapun sampai ke mana krisis ini akan berjalan, maka bisa dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, Negara-negara Eropa berusaha untuk mendinginkan situasi dan berusaha mencegah Rusia menyerang Ukraina (saat ini 24/02/2022 Rusia sudah menyerang Ukraina). Mereka ingin melembutkan hubungan dengan Rusia untuk membatasi risikonya dan memastikan keberlanjutan aliran sumber daya energi Rusia ke Eropa dengan harga yang wajar. Prancis, Jerman dan Italia menyerukan Rusia untuk terlibat dalam negosiasi dengan Ukraina untuk menyelesaikan krisis.

Di antara hal itu, “Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan bahwa negaranya ingin meningkatkan hubungan dengan Rusia. Menlu Jerman itu menekankan bahwa perealisasian hal itu memerlukan kemajuan dalam penyelesaian konflik di Donbass” (RT, 23/11/2021). Tetapi Inggris mungkin berusaha untuk memanaskan situasi dari bab oposisi politik Uni Eropa yang mana Inggris telah keluar darinya! “Kepala Staf Angkatan Bersenjata Inggris, Jenderal Nicholas Carter mengatakan bahwa ada risiko yang lebih besar sejak Perang Dingin, yang memperingatkan meletusnya perang antara Barat dan Rusia (Al-Jazee ra net, 13/11/2021).

Dia juga mengatakan, “Kita harus berhati-hati” tentang kemungkinan konflik di kawasan tersebut. Jenderal Nick Carter mengatakan kepada BBC bahwa dia sangat berharap tidak akan ada perang dengan Rusia. Tetapi dia menambahkan bahwa NATO harus bersiap untuk kemungkinan itu” (BBC, 5/12/2021). Pernyataan semisal ini dari Inggris tak lain untuk lebih membingungkan daripada sebagai pertanda terjadinya perang secara riil.

Kedua, tetapi faktor yang paling menentukan adalah sikap Amerika. Karena Amerika menguasai banyak utas pemerintahan Ukraina. Itulah sebabnya Rusia mengirim pesan meminta jaminan keamanan, yang dia kirim kepada Amerika dan bukan kepada negara lain, mengingat negara-negara NATO mengikuti langkah-langkah Amerika. Bahkan, tertundanya respon Amerika mengenai jaminan keamanan, terutama masalah penggabungan Ukraina ke NATO, penundaan ini membat gelisah Rusia: “Di Moskow, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov mengatakan bahwa Moskow membutuhkan tanggapan cepat Amerika terhadap proposalnya karena situasinya sulit dan mungkin terjadi komplikasi dan eskalasi…” (AlJazee era, 20/12/2021).

Begitulah. Jadi,

  • Jika Amerika memutuskan memberi Rusia jaminan-jaminan keamanan di Ukraina tanpa kesepakatan dengan Rusia seputar masalah China maka bobot Rusia akan lebih kuat di dalam krisis ini. Dan pemberian jaminan ini mengungkapkan lebih banyak kelemahan posisi Amerika. Sebab dengan itu Amerika telah menyerah kepada tuntutan-tuntutan Rusia dan mendengarkan tuntutan-tuntutan Eropa untuk pendinginan situasi. Dan ini jauh kemungkinannya. Kecuali ada konsesi Rusia untuk memutuskan hubungannya dengan China demi kepentingan Amerika.
  • Tetapi jika Amerika memutuskan untuk melibatkan Rusia dan mendorongnya ke perang di Ukraina, maka Rusia akan jatuh atau terjatuh dalam jebakan rencananya.
  • Dengan merenungkan semua hal ini, yang lebih rajih menurut kami saat ini (yaitu saat soal jawab ini dibuat pada 22 Desember 2021) bahwa perang sengit antara Rusia dan Ukraina tidak akan terjadi kecuali ada perkembangan baru yang mana Rusia tertipu sehingga memulai perang dan terjun di dalamnya! Tidak adanya kemungkinan terjadinya perang tidak menghalangi terjadinya pertempuran-pertempuran di Ukraina timur sesekali waktu.
  • Demikian juga, tidak mungkin Amerika akan bisa memutuskan sepenuhnya hubungan Rusia dengan China. Rusia juga tidak akan dapat merealisasi tiga tujuannya. Sebaliknya, berdasarkan jalan para kapitalis dalam penyelesaian jalan tengah akan dapat terjadi pelunakan sikap Amerika terhadap tiga tujuan Rusia dengan imbalan pengurangan hubungan Rusia dengan China. Dan kemudian Rusia membongkar pengkonsentrasian pasukannya di perbatasan dengan Ukraina, dan mencukupkan diri dengan sedikit jarahan!

18 Jumada al-Ula 1443 H
22 Desember 2021 M

[Disarikan dari soal jawab bersama Syaikh ‘Atha Abu ar-Rasytah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here