Alami Diskriminasi Rasial, Ini Sikap Turki Terhadap Muslim Uighur

0
289

Saat ini Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa pemerintah Beijing menahan satu juta muslim Uighur tanpa proses hukum. Gay McDougall Anggota Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial, mengungkapkan bahwa wilayah otonom Uighur diubah layaknya sebuah kamp. PBB menerima laporan bahwa adanya penyiksaan terhadap tahanan. Dalam kamp tersebut para tahanan diwajibkan mengucapkan sumpah setia kepada Presiden Cina Xi Jinping. Tak hanya itu, dilaporkan juga bahwa mereka tidak diberi makan dengan baik dan dipaksa menyerukan slogan Partai Komunis.

Sebelumnya, pada tahun 2014, pemerintah Cina mengeluarkan peringatan pada karyawan dan pelajar untuk tidak berpuasa selama bulan suci tahun itu. Cina juga dilaporkan telah melarang pria untuk memiliki janggut panjang, melarang kegiatan pendidikan agama, dan mengambil tindakan untuk mengontrol pintu masuk dan keluar masjid-masjid. Pada Januari 2015, pelarangan itu diperluas dengan melarang penggunaan cadar di tempat umum. Kemudian pada Juni 2015, Cina telah melarang pelaksanaan ibadah Ramadhan di bagian Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang. Pelarangan secara luas tersebut diperuntukkan bagi anggota partai, pegawai sipil, pelajar dan guru.

Kejadian tersebut memunculkan reaksi dukungan dari berbagai negara. Tak terkecuali Turki. Dikenal akan kepedulian yang tinggi kepada Muslim di seluruh dunia, Turki turut menampung Muslim Uighur yang mengalami penindasan oleh pemerintah Cina. Pada tahun 2016, seorang pemimpin Kongres Uighur mengatakan bahwa Turki telah peduli kepada orang Uighur, layaknya mereka menunjukkan kepedulian kepada para pengungsi Suriah.

Mengutip dari Hidayatullah.com, Ketua Kongres Uighur Dunia Rebiya Kadeer, mengatakan bahwa diktator dan kelompok radikal di Timur Tengah memaksa penduduk Uighur untuk lari ke barat, termasuk Turki dan Eropa. Tercatat di tahun 2016 ada sebanyak 1.500 orang Uighur berada di Kayseri, Turki.

“Turki telah memberi penampungan pada orang Uighur, yang lari dari penindasan Cina, seperti mereka menampung jutaan pengungsi yang lari dari Suriah,” ungkap Kadeer.

Etnis Uighur hidup di Asia Tengah, terutama di propinsi Cina, Xinjiang. Namun, sejarah mereka menyebut daerah itu dengan Uighuristan atau Turkestan Timur. Bangsa Uighur merupakan keturunan klan Turki. Keturunan-keturunan klan Turki di Asia Tengah memiliki asal, bahasa, tradisi dan kebudayaan dan agama yang sama. Orang Uighur berbeda ras dengan Cina-Han. Mereka lebih mirip orang Eropa Kaukasus, sedang Han mirip orang Asia. Tahun 1949, sebesar 96 % penduduk Xinjiang adalah klan Turki. Namun, sensus Cina terakhir menyebutkan bahwa saat ini hanya ada 7,2 juta etnis Uighur dari 15 juta warga Xinjiang. Xinjiang merupakan provinsi terbesar di Cina.

Berdasarkan sejarah, bangsa Uighur yang merdeka telah hidup di Uighuristan lebih dari 2.000 tahun. Namun Cina mengklaim daerah itu sebagai warisan sejarahnya, oleh sebab itu tak dapat dipisahkan dari Cina. Bangsa Uighur meyakini bahwa fakta sejarah menunjukkan klaim Cina tersebut tidak berdasar dan secara sengaja salah menginterpretasikan sejarah untuk kepentingan ekspansi wilayahnya.

Wilayah Uighur sebelah utara berbatasan langsung dengan Kazakstan, di timurlaut berbatasan dengan Mongolia, baratlaut berbatasan dengan Kirghiztan dan Tajikistan, serta di baratdaya berbatasan dengan Afghanistan-Pakistan. Uighuristan merupakan wilayah yang membentang sejauh 1.500 mil dari Beijing, tanah yang subur dengan luas 1.6 juta km2, hampir 1/6 bagian dari wilayah Cina.

Sejak dulu, banyak orang Uighur menjadi pengajar di kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma, Istambul, Baghdad. Kebanyakan karya sastra awal keberadaan Uighur diterjemahkan ke teks agama Budha dan Manichean. Bahkan sebagian ahli barat percaya akupuntur bukan asli milik orang Cina, tapi awalnya dikembangkan Uighur. Orang Uighur juga memiliki kemampuan arsitektur, musik, seni dan lukisan yang tinggi. Mereka bahkan telah bisa mencetak buku berabad-abad sebelum ditemui oleh Gutenberg. Pada abad pertengahan, karya sasta, teater, musik dan lukisan sastrawan Cina juga sangat dipengaruhi Uighur. Mereka juga telah mengembangkan sistem irigasi pertanian.

Sebelum masuknya Islam, Uighur menganut Shamanian, Budha dan Manicheism. Orang Uighur memeluk Islam sejak tahun 934, saat pemerintahan Satuk Bughra Khan, pengusaha Kharanid. Saat itu, 300 masjid megah dibangun di kota Kashgar. Islam lalu berkembangan dan menjadi satu-satunya agama orang Uighur di Uighuristan.

Sumber: Republika, Hidayatullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here